TUGAS MANDIRI 14

 

MEMBANGUN KARAKTER DI TENGAH TANTANGAN MODERN

PENDAHULUAN   

 

 

NAMA: Shafina Ramadhani Achmad

NIM: 416125010126

MATA KULIAH: KEWARGANEGARAAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Integritas, dalam pandangan saya, adalah komitmen untuk menjalankan nilai-nilai moral dengan konsisten, di mana kata-kata, tindakan, dan keputusan selalu selaras dengan prinsip kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan. Integritas bukan sekadar menghindari kebohongan, tetapi juga kemauan untuk bertindak benar meski menghadapi risiko atau godaan. Bagi seorang mahasiswa, nilai ini krusial karena kampus adalah laboratorium pertama untuk membentuk karakter. Di era di mana informasi mudah diakses dan persaingan ketat, mahasiswa sering dihadapkan pada dilema etis yang dapat membentuk atau merusak masa depan. Tanpa integritas, seorang mahasiswa mungkin berhasil secara akademik, tetapi gagal dalam membangun kepercayaan diri dan masyarakat. Integritas membantu kita menjadi individu yang dapat diandalkan, baik dalam lingkungan akademik maupun profesional, sehingga mempersiapkan kita untuk berkontribusi positif di dunia yang lebih luas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BATANG TUBUH

Dalam konteks akademik, kejujuran sering kali diuji oleh berbagai godaan yang tampaknya "praktis" namun berpotensi merusak fondasi pembelajaran. Saya pernah menghadapi situasi di mana integritas saya diuji saat mengerjakan tugas kelompok. Pada semester lalu, salah satu anggota kelompok saya mengusulkan untuk menyalin sebagian besar konten dari sumber online tanpa atribusi yang tepat, dengan alasan "semua orang melakukannya dan dosen tidak akan tahu". Godaan ini kuat karena tugas tersebut sangat padat, dan waktu kami terbatas. Namun, saya memilih untuk menolak dan malah mendorong kelompok untuk bekerja sama secara jujur, meski itu berarti menghabiskan lebih banyak waktu untuk riset dan diskusi. Situasi ini mengajarkan saya bahwa plagiarisme bukan hanya tentang risiko sanksi akademik, seperti nilai nol atau skorsing, tetapi juga tentang kehilangan kesempatan untuk belajar secara mendalam. Jika integritas diabaikan, dampaknya bisa meluas: mahasiswa menjadi terbiasa dengan jalan pintas, yang pada akhirnya mengurangi kualitas pendidikan dan mempersiapkan mereka untuk dunia kerja yang penuh dengan ketidakjujuran.

Selain plagiarisme, godaan lain seperti titip absen atau bekerja sama saat ujian juga sering muncul. Di kampus saya, ada kasus di mana mahasiswa menggunakan aplikasi untuk menitip absen, yang seolah-olah efisien tetapi melanggar aturan kehadiran yang dirancang untuk memastikan partisipasi aktif. Saya pernah ditawari untuk bergabung dalam praktik ini oleh teman, dengan dalih "hanya sekali ini dan tidak ada yang rugi". Namun, saya menolak karena merasa itu merendahkan nilai kehadiran sebagai bentuk komitmen. Jika integritas diabaikan dalam hal ini, mahasiswa mungkin lulus dengan ijazah, tetapi tanpa keterampilan soft skills seperti disiplin dan tanggung jawab, yang penting di dunia profesional. Dampaknya lebih luas: kampus menjadi tempat yang mendorong budaya malas, di mana prestasi diukur dari hasil akhir saja, bukan proses. Ini bisa menciptakan generasi lulusan yang kurang siap menghadapi tantangan nyata, seperti persaingan kerja yang adil atau etika bisnis.

Melampaui kampus, integritas sulit ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat karena faktor-faktor seperti tekanan ekonomi, pengaruh media sosial, dan norma sosial yang longgar. Di masyarakat saat ini, korupsi masih menjadi isu besar, seperti yang terlihat dalam kasus-kasus suap di sektor publik atau bisnis. Saya sering mengamati bagaimana pejabat atau pengusaha memilih jalan pintas untuk keuntungan pribadi, mengabaikan dampak pada masyarakat luas. Misalnya, skandal korupsi di Indonesia, seperti yang melibatkan dana desa atau proyek infrastruktur, menunjukkan bagaimana integritas diabaikan demi kekuasaan atau kekayaan. Hal ini sulit ditegakkan karena sistem hukum yang lemah, di mana hukuman sering kali tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat, sehingga mendorong orang lain untuk mengikuti.

Selain korupsi, penyebaran hoaks di ruang publik juga mencerminkan ketidakjujuran yang merajalela. Di era digital, informasi palsu menyebar cepat melalui media sosial, seperti berita bohong tentang vaksin COVID-19 atau politik yang memicu polarisasi. Saya pernah melihat teman-teman saya membagikan konten tanpa verifikasi, yang akhirnya memicu perdebatan dan bahkan konflik. Mengapa ini terjadi? Karena algoritma platform sosial mendorong konten sensasional untuk mendapatkan likes, sementara pendidikan literasi digital masih kurang. Integritas sulit ditegakkan karena norma sosial yang memprioritaskan popularitas daripada kebenaran, dan hukuman untuk penyebar hoaks sering kali ringan. Dampaknya fatal: masyarakat menjadi terpecah, kepercayaan pada institusi menurun, dan keputusan kolektif seperti pemilihan umum bisa dipengaruhi oleh informasi palsu.

Faktor lain adalah tekanan ekonomi dan budaya konsumerisme, di mana orang merasa perlu "menang" dengan cara apa pun. Di masyarakat urban seperti Jakarta, saya sering melihat orang yang melanggar aturan lalu lintas atau membeli barang ilegal demi efisiensi. Ini mencerminkan bagaimana integritas dikorbankan untuk kelangsungan hidup, terutama di tengah ketimpangan sosial. Jika integritas diabaikan secara luas, masyarakat bisa terperosok ke dalam krisis kepercayaan, di mana kolaborasi dan kemajuan menjadi sulit.

 

 

 

 

 

 

PENUTUPAN

Secara keseluruhan, integritas dan kejujuran adalah fondasi yang harus dijaga di kampus dan masyarakat untuk membangun dunia yang lebih baik. Tantangan di kampus seperti plagiarisme dan titip absen menguji kita untuk tetap jujur, sementara isu eksternal seperti korupsi dan hoaks menunjukkan betapa sulitnya menegakkan nilai ini di tengah tekanan modern. Namun, dengan kesadaran dan tindakan, kita bisa mengubahnya. Komitmen pribadi saya adalah untuk selalu menjalankan integritas dalam setiap aspek kehidupan. Setelah lulus, saya akan mengambil langkah konkret seperti bergabung dengan organisasi anti-korupsi, seperti Transparency International, untuk berkontribusi dalam kampanye pendidikan etika. Saya juga akan menerapkan prinsip kejujuran di dunia kerja dengan menolak praktik curang, seperti manipulasi laporan keuangan, dan mendorong rekan kerja untuk melakukan hal yang sama. Selain itu, saya berkomitmen untuk terus belajar literasi digital dan menyebarkan informasi yang akurat di media sosial, serta mendidik generasi muda melalui mentoring di kampus. Dengan langkah-langkah ini, saya berharap dapat menjadi agen perubahan, membuktikan bahwa integritas bukan hanya kata-kata, tetapi tindakan yang berkelanjutan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI MAHASISWA UNTUK INDONESIA: MENGABDI DENGAN SEMANGAT KEBANGSAAN

Tugas Mandiri